Cerita Bisnis
Pengusaha Harus Bisa Lebihi Ekspektasi Konsumen
Sugara Yoppindra, 05-05-2016 07:14:21 - Tips dan Trik
Rachel, mahasiswa ITB sekaligus pengusaha muda telah mampu menghasilkan omzet 20 juta per bulan lewat bisnis jasa surat undangan, events organizer party, dll. Mahasiswa Seni Rupa ini menerapkan ilmu d

Ini adalah cerita saya bertemu dengan salah seorang pengusaha muda, tetapi masih berstatus mahasiswa. Penghasilannya Rp 12-20 juta per bulan. Memang tidak tetap, sesuai banyaknya pesanan. Dengan itu, kini ia sudah tak ‘meminta’ lagi ke orang tuanya. Biaya hidup di kota Bandung, beli gadget, pulsa tiap bulan dan baju-baju baru dibeli dengan duit sendiri. Hanya bermodalkan skill desain dan laptop, gadis berusia 22 tahun ini sukses membuat iri teman-temannya.



            Pesta ulang tahun hari itu begitu spesial. Tidak seperti pesta pada umumnya. Balon berwarna hitam dan putih diikatkan pada setiap kursi.Ada bunga ros pajangan dan lilin-lilin berwarna merah dalam botol bening memperkuat suasana romantis. Semuanya sengaja di-setting. Di tengah badan botol, tertulis “you are invited!”. 



            Rachel Ajeng Putri Sembiring (20) telah menggeluti bisnisnya ini sejak 2011 lalu. Berawal dari ekpektasi yang tak terpenuhi saat melihat perayaan pesta ulang tahun sahabat dekatnya. Rachel, begitu ia akrab disapa, merasa kecewa terhadap events organizer (EO) yang mencetak desain surat undangan pesta saat itu. “Aku kesel aja. Temenku udah bayar mahal untuk dibuatin invitation, tetapi desainnya standar saja,” ujarnya.



Bermaksud baik, Rachel membuatkan desain sendiri spesial. Iseng-iseng, Rachel membubuhi namanya di invitations saat itu. Berkah, ternyata. Kemampuan desainnya saat itu dilirik massa. Saat itulah mulai banyak orang yang menghubungi Rachel untuk dibuatkan surat undangan. “Semakin hari, semakin banyak permintaan. Aku mulai sadar, bisnis ini sangat prospek. Setiap orang akan merayakan ulang tahun mereka. Di Jakarta, birthday party selalu dibuat mewah. Mereka habiskan puluhan juta, sampai menyewa EO dan artis untuk mengonsep acara,” tambahnya.



Kini, mahasiswa tingkat akhir di Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain FSRD ITB ini sudah menghasilkan Rp 12-20 juta per bulan dari bisnisnya. Rachel pun mulai merambah souvenir, buku tamu, table setting, dan party plan. Mulai dari konsep acara, dekor, panggung, DJ sampai MC semua diurus Rachel.



Bermodal Kepercayaan



“Modal uang, aku tak punya!,” sempat kaget mendengar penjelasannya. Rachel hanya bermodalkan skill desain dan sebuah laptop dalam menjalankan usahanya. Awalnya, klien Rachel mengirimkan uang 50 persen dari harga kesepakatan. Uang itu dibelikannya material desain dari ide yang akan dibuat.



Hebatnya, ada saja klien memakai jasanya padahal mereka tak pernah tatap muka langsung. “Transaksi via telepon/chat aja dan uangnya ditransfer. Mereka percaya kerjaan aku, ya, berarti aku nggak boleh mengecewakan mereka,” tegasnya.



Untuk strategi marketing, Rachel mengaku tak memiliki rahasia khusus. Dia hanya selalu memberikan sesuatu melebihi ekspektasi kliennya. Invitations, misalkan, dia selalu menambahkan bunga-bunga atau burung-burung sebagai bonus finishing pop-up dalam karyanya. Ini akan membuat kliennya kaget sehingga mereka lebih kagum. Bonusnya, Rachell bisa dapat promosi gratis dari mulut kliennya sendiri.



Selain itu, Rachel juga memastikan setiap klien mendapatkan desain beda. “Ini kan spesial banget buat klien. Setiap mesen undangan, aku kasih paper bag buat klien sesuai personality mereka,” tuturnya.



Demi kepuasan klien, Rachel selalu melakukan konsultasi untuk tahu seperti apa keinginan kliennya. Dia juga mencari tahu warna kesukaan hingga hal-hal yang disukai. Ini berguna agar sesuai taste klien.



Arti Pengusaha



            Bagi Rachel, menjadi seorang pengusaha dari muda bukan sekadar tentang bagaimana menghasilkan uang, tetapi juga kesempatan mengasah passion. Banyak mahasiswa kurang terampil disebabkan mereka jarang terjun ke lapangan. Bahkan, mereka kadang tak tahu medan mereka seperti apa. Dengan menjadi pengusaha, akan semakin meningkatkan skill diri apalagi jenis usaha sesuai passion masing-masing.



            Menjadi pengusaha sedari muda, menuntut Rachel belajar bersikap profesional. Misalkan, ada klien yang banyak mau, Rachel selalu berusaha tetap ‘manis’ dihadapan mereka. Sesekali ia juga pusing dengan jadwal kuliahnya yang padat. Kadang-kadang Rachel meninggalkan beberapa kegiatan organisasinya di kampus untuk kembali mengurus usaha yang telah dirintisnya sejak SMA ini. Anda tertarik pesta ala sirkus atau  bajak laut? Karya Rachel bisa menjadi inspirasi pesta Anda. Semoga cerita bisnis ini bisa menginspirasi :) (Sugara Yoppindra)

Tinggalkan Balasan
Alamat email anda tidak akan disebarkan. Ruas yang wajib ditandai *
*
*
*