Tokoh Dunia
Kisah Sukses Perry Tristianto
Super Admin, 31-01-2017 16:21:45 - Profil
Jika anda pernah berkunjung ke Bandung, mungkin anda pernah belanjad di FO seperti di Rumah Mode di stiabudhi, atau The Secret, atau di The big Price cut di jl. Aceh.

Jika anda pernah berkunjung ke Bandung, mungkin anda pernah belanjad di FO seperti di Rumah Mode di stiabudhi, atau The Secret, atau di The big Price cut di jl. Aceh. Atau anda pernah menikmati kuliner di Bali Heaven di pasteur, atau di Kampung Baso, di Rumah Sosis, atau Tahu Susu Lemban. Atau mungkin pernah berkunjung ke tempat wisata berkuda The Ranch di Lembang, Farmhouse atau Floatingmarket. Nah, ternyata semua yang saya sebutkan di atas pemiliknya adalah orang yang sama. Ia adalah Perry Tristianto yang sering disebut sebagai Raja FO.



Perry Tristianto lahir di Bandung tahun 1960 ini memulai usaha sejak masih duduk di bangku kuliah jurusan Administrasi Niaga Universitas Parahyangan Bandung (Unpar) dengan membuka peternakan ayam di rumah orang tuanya, jalan Garuda Bandung. Jumlah ayam dipeternakannya mencapai 1500 ekor. ”Omsetnya sekitar 600 ribu perbulan, ” kenang Perry. Usaha yang lancar itu kemudian ditinggalkan Perry ketika ia berangkat ke Singapura untuk melanjutkan studi di Jurusan Administrasi Bisnis, Stanford College.



Sekembalinya dari Singapura, tahun 1984, anak sulung dari tiga bersaudara ini bekerja sebagai direktur di Alpine Record, sebuah perusahaan rekaman kaset. Gajinya waktu itu sudah Rp. 500 ribu per bulan. Namun itu pun hanya berlangsung 4 tahun. Perusahaan rekaman tersebut akhirnya gulung tikar karna tak mampu lagi membayar royalti kepada para artis.



Kemudian Ia banting setir menjadi pengusaha kaos bergambar penyanyi kelas dunia seperti Shakatak, Al Jarreau, dan Michael Frank. Modalnya di dapat dari tabungan gaji selama bekerja di Alpine Record. Usaha kaos itu lumayan berkembang. Perry kemudian membuka sebuah outlet kaos kecil-kecilan di rumah orang tuanya di Jalan Cihampelas – kawasan Jeans terbesar di Bandung kala itu. Ia juga memproduksi busana jeans dengan merk Blue Notes. Penjualan waktu itu bisa mencapai 20-30 ribu potong perbulan.



Belakangan Blue Notes berhasil masuk ke department store terkenal untuk ikut dipasarkan. Tapi Perry kemudian kecewa dan memutuskan kerja sama itu. Usaha jeansnya waktu itu pun sempat goyang. Pasalnya, toko yang mengambil barang Perry baru bisa melunasi 4 bulan setelah barang laku. 



kemudian ia membuka bisnis busana secara retail di 14 perumahan di Jakarta dan Bandung. Tujuannya agar bisa secepatnya memperoleh fresh money dari penjualan. Bisnis retail berbentuk warung pakaian yang diberi nama Gudang Stock ini ternyata mendapat sambutan luar biasa.  



Tahun 1995, Perry menoleh peluang baru yaitu busana sisa ekspor. Dengan modal nekat dan pinjaman Rp. 250 juta dari Bank Danamon, ia banting stir membuka Outlet besar khusus busana sisa ekspor, seluas 200 m2 di Graha Manggala Siliwangi atau persis di sebelah Stadion Siliwangi Bandung. Outlet itu diberi nama ”The Big Price Cut” dengan motto ”We cut the price but not the quality”.



Setahun kemudian, ia menutup semua usaha retailnya agar bisa berkonsentrasi ke outlet di Graha Manggala Siliwangi. Dari Bandung, Perry memperluas usahanya ke Surabaya, Makassar Bali dan Jakarta. Namun karena susahnya melakukan pengawasan, setahun kemudian cabang di Surabaya, Makassar dan Bali ditutupnya.  



Tahun 1999, Perry Tristianto membuka lagi sebuah cabang di Jalan Otten Bandung dengan nama FOS (Factory Outlet Store). Lalu tahun 2000, Perry Tristianto membuka cabang FO bernuansa butik di Dago yang diberi nama Rich & Famous.



Untuk membuat para pengunjung dari luar kota Bandung tidak bosan datang ke kota Bandung maka Perry berusaha selalu menciptakan ide-ide kreatifnya seperti membuka Rumah Sosis, awalnya ia mengajak kawannya untuk berjualan sosis di depan outlet-outletnya, ternyata sosis itu cukup disenangi masyarakat, maka ia menciptakan sebuah resto keluarga yang diberi nama Rumah Sosis. Di mana menunya dirancang sangat sesuai cita rasa sosis yang memang enak, lezat dan gurih. Ia juga membuka usaha kuliner lainnya seperti Kampung Baso yang juga berlokasi di jalan Setiabudhi.



Perry Tristianto merupakan tokon inspiratif dunia bisnis, dimana perjalanan dari nol ia lalui sampai menjadi pengusaha sukses seperti sekarang ini, bahkan menurut dirinya dari salah satu usahanya floating market, ia bisa meraup omzet Rp 135jt / hari. Belum berbagai bisnis lainnya.

Penulis:Kuswandi Taufik
Redaktur/Editor:Nana Salsabilla
Tinggalkan Balasan
Alamat email anda tidak akan disebarkan. Ruas yang wajib ditandai *
*
*
*